Boediono VS Prabowo VS Wiranto , Kilas Balik dan Prospektus Cawapres Kita
mesin kasir | May 16, 2009 | Comments 0
Hari ini secara resmi ketiga pasangan capres-cawapres, Jusuf Kalla-Wiranto, Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, dan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Sabtu (16/5), mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jl Imam Bonjol, Jakpus. Terbuka jelas tabir misteri siapa saya yang bakal berkompetisi untuk menjadi pilihan rakyat dan yang bakal memimpin rakyat dan negara Indonesia.
Kenapa posting ini membahas Cawapres? kok bukan Capresnya saja. Menurut saya ketiga Capres sudah sama sama kita ketahui gaya dan dedikasi mereka serta arah politik mereka, karena mereka pernah memimpin kita (walau dalam hal ini JK sebelumnya hanya sebatas Wapres) namun orang banyak menilai JK adalah Wapres yang agak berbeda dengan Wapres generasi sebelumnya, yang cuman jadi formalitas.
Yang menarik bagi saya adalah bagaimana ketiga figur Cawapres kita kali ini bila di bandingkan, untuk itu sebelumnya kita telusuri dulu biografi ketiganya.
Calon wakil presiden, Boediono, mengaku tak pernah bercita-cita menjadi wakil presiden. Ia sangat berterima kasih kepada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang memercayainya untuk maju sebagai calon wakil presiden.
“Sejak awal, saya merintis karier saya sebagai ekonom dan seorang guru, saya tidak pernah bercita-cita memegang salah satu jabatan puncak dalam republik yang kita cintai ini,” ujar Boediono saat menyampaikan pidatonya di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung, Jumat (15/5) malam.
Menurut Boediono, pinangan SBY merupakan kehormatan yang sangat besar bahkan tak terduga-duga. Tak lupa ia menyatakan terima kasih kepada partai-partai yang telah menyatakan dukungan atas pencalonannya, termasuk kepada istrinya yang memberikan dukungan termasuk maju sebagai cawapres.
Ia mengatakan, keyakinannya untuk bersedia dicalonkan dan mendampingi SBY adalah kerja sama baik yang telah dibangun selama ini. Boediono mengaku bahwa pengalaman tiga tahun sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di kabinet cukup sebagai modal untuk maju dalam pilpres mendatang.
“Hal itu menjadi modal untuk bekerja sama dengan pride dan mewujudkan pemerintahan yang tepat, cepat, dan akuntabel,” katanya. Yang membuatnya yakin juga adalah tekad pemerintahan sebelumnya di bawah kepemimpinan SBY yang berusaha membangun pemerintahan yang bersih dari korupsi.
Boediono menyatakan, bekerja dalam tim yang dipimpin SBY merupakan kehormatan. “Bukan kedudukannya itu, tetapi karena ikut menjalankan cita-cita yang luhur,” ujarnya.
Nama: Prof. Dr. Boediono Lahir: Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943Agama: IslamPekerjaan: - Menteri Keuangan Kabinet Gotong Royong (2001-2004) - Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999) - Direktur I Bank Indonesia Urusan Operasi dan Pengendalian Moneter - Direktur III Bank Indonesia Urusan Pengawasan BPR (1996-1997) - Dosen Fakultas Ekonomi UGM Alamat: Jalan Mampang Prapatan XX No.26, Jakarta SelatanCatatan Prof. Dr. Boediono Ekonom Bertangan Dingin Calon Wakil Presiden (Cawapres) pendamping Capres SBY (Partai Demokrat), ini * Executive Board for Asia – Wharton Advisory Boards, The Wharton School of the University of Pennsylvania [9] Karya dan Publikasi * Mubyarto, Boediono, Ace Partadiredja. 1981. Ekonomi Pancasila. BPFE. * Boediono. 2001. Indonesia menghadapi ekonomi global. BPFE. Yogyakarta. * Boediono. Strategi Industrialisasi: Adakah Titik Temu ? Prisma Tahun XV, * The International Monetary Fund Support Program in Indonesia: Comparing * Kebijakan Fiskal: Sekarang dan Selanjutnya?. dalam Subiyantoro dan S. * Professor Mubyarto, 1938-2005. Bulletin of Indonesian Economic Studies * Stabilization in A Period of Transition: Indonesia 2001-2004. dalam The * Managing The Indonesian Economy: Some Lessons From The Past?. Bulletin of |
Nama: Wiranto
Lahir: Yogyakarta, 4 April 1947Agama: Islam Pangkat: Jenderal TNI 1997 Menhamkan/Pangab/Pang TMI 1998-1999 (Kabinet Reformasi Pembangunan-Habibie) Menko Polkam, 1999-2000 (Kabinet Persatuan Nasional-Gus Dur)Wiranto Karir militer Namanya melejit setelah menjadi ADC Presiden Suharto tahun 1987-1991. Karir sipil Kariernya tetap bersinar setelah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tampil sebagai Setelah memenangi konvensi Partai Golkar atas Ketua Umum Partai Golkar Ir. Organisasi * Paguyuban Kepala Desa dan Perangkat Desa (PRAJA), Pembina * Paguyuban Warung Tegal, Ketua Dewan Pembina * Paguyuban Spiritual Indonesia, Pembina |
Nama: Prabowo Subianto Lahir: Jakarta, 17 Oktober 1951Agama: Islam Pendidikan: SMA: American School In London, U.K. (1969) Akabri Darat Magelang (1970-1974) Sekolah Staf Dan Komando TNI-AD Pekerjaan: Perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (1974 – 1998) Wiraswasta Jabatan Sekarang: = Ketua Umum HKTI periode 2004-2009 = Komisaris Perusahaan Migas Karazanbasmunai di Kazakhstan = President Dan Ceo PT Tidar Kerinci Agung (Perusahaan Produksi Minyak = President Dan Ceo PT Nusantara Energy (Migas, Pertambangan, Pertanian, = President Dan Ceo PT Jaladri Nusantara (Perusahaan Perikanan) Jakarta, Keanggotaan Dalam Organisasi Politik Dewan Penasihat Organisasi Kosgoro Keanggotaan Dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Ketua Yayasan Pendidikan Kebangsaan (Universitas Kebangsaan) Ketua Majelis Perhimpunan Keluarga Mahasiswa Dan Alumni Supersemar Pendiri Koperasi Swadesi Indonesia (Ksi) Dengan 14 Cabang Di 4 Provinsi di - Ketua Yayasan 25 Januari Ketua Umum PB Ikatan Pencaksilat Seluruh Indonesia (IPSI) Alamat: NUSANTARA ENERGY GROUPMenara Bidakara 9th FloorJl. Gatot Subroto kav. 71-73Jakarta 12870 IndonesiaTel : +62 (0)21 8379 3250Fax : +62 (0)21 8379 3253 |
Mari kita urai satu persatu Cawapres kita ini,
Prabowo Subianto,
Pensiun dari dinas militer, Prabowo beralih menjadi pengusaha. Ia mengabdi pada dua dunia. Nama mantan Pangkostrad dan Komjen Kopassus ini kembali mencuat, menyusul keikutsertaannya dalam konvensi calon presiden Partai Golkar. Kemudian dalam Musyawarah Nasional (Munas) VI Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Kongres V Petani 5 Desember 2004 di Jakarta, dia terpilih menjadi Ketua Umum HKTI periode 2004-2009 menggantikan Siswono Yudo Husodo dengan memperoleh 309 suara, mengalahkan Sekjen HKTI Agusdin Pulungan, yang hanya meraih 15 suara dan satu abstein dari total 325 suara.
Putera begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini telah kembali ke ladang pengabdian negerinya. Tak berlebihan untuk mengatakannya demikian. Maklum, kendati sudah hampir tiga tahun pulang ke tanah air – setelah sempat menetap di Amman, Yordania – Prabowo praktis tak pernah muncul di depan publik. Apalagi, ikut nimbrung dalam hiruk-pikuk perpolitikan yang sarat dengan adu-kepentingan segelintir elite.
Mantan menantu Soeharto ini lebih memilih diam, sembari menekuni kesibukan baru sebagai pengusaha. ”Kalau bukan karena dorongan teman-teman dan panggilan nurani untuk ikut memulihkan negara dari kondisi keterpurukan, ingin rasanya saya tetap mengabdi di jalur bisnis. Saya ingin jadi petani,” ucap Prabowo.Prabowo Subianto Menjawab
Saya Merasa Dirugikan…
Ninuk M Pambudy
“Demi Allah, saya tidak pernah mengucapkan ’Presiden apa Anda? Anda naif’. Juga saya tidak mengucapkan, ’Atas nama ayah saya Prof Sumitro…’ . Apa hubungan ayah saya dengan semua itu?” kata Prabowo Subianto (55), mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, di ruang kerjanya di Kompleks Bidakara, Rabu (27/9).
Berbicara teratur dan tenang, Letjen (Purn) Prabowo Subianto yang kini menjadi pengusaha dan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia itu menjawab pertanyaan Kompas seputar buku mantan Presiden BJ Habibie, Detik-detik yang Menentukan, yang diluncurkan Sabtu (16/9).
Salah satu bagian menarik dari buku ini adalah dialog BJ Habibie, yang menjadi presiden menggantikan Soeharto yang mundur pada 21 Mei 1998, dengan Prabowo.
Disebutkan, alasan Habibie mengganti Prabowo karena mendapat laporan dari Pangab Jenderal Wiranto ada gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan (tempat tinggal Habibie dan keluarga), dan Istana Merdeka.
Bagian dialog di atas, menurut Prabowo, tidak sesuai dengan apa yang dia alami.
“Tulisan yang saya baca di Kompas (20/9), lalu saya baca bukunya, itu menurut versi Pak Habibie. Setiap orang memiliki hak menyampaikan versinya. Tetapi, karena menyangkut pihak lain, tentunya saya boleh menyampaikan versi saya,” kata Prabowo.
“Apa yang saya lihat tidak sesuai dengan yang beliau uraikan. Mungkin karena beliau sudah sepuh dan (kejadian) sudah berlangsung lama. Beliau sampaikan dalam kalimat langsung. Ini merugikan karena saya tidak mengucapkan itu,” ujarnya.
Prabowo menyebutkan, sampai saat ini dia tidak mengerti tujuan penulisan itu. “Dia orang yang saya hormati, kagumi, yang saya anggap bapak saya. Tetapi, ada insinuasi seolah-olah saya kurang ajar,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, dia sudah meminta waktu bertemu Habibie untuk menanyakan hal ini, tetapi sampai saat ini belum ada jawaban.
Intuisi
Lalu, apa yang terjadi?
Prabowo menuturkan, Jumat 22 Mei 1998 dia mendapat laporan dari stafnya, Pataka Kostrad yang merupakan lambang kepemimpinan komando kesatuan akan diambil. Itu berarti komandan akan diganti. “Kok, tidak ada pemberitahuan kepada saya?” kata Prabowo.
Prabowo menggambarkan, hubungannya cukup dekat dengan Habibie ketika itu. Dia mengagumi Habibie saat menjadi Menteri Negara Ristek karena dia anggap Habibie dapat membawa Indonesia menjadi negara industri maju. “Beliau sering mengatakan kepada saya, bila saya mengalami tanda tanya, silakan datang kepada beliau. Itulah reaksi saya ketika datang ke Istana,” tutur Prabowo.
Seusai shalat Jumat sekitar pukul 14.00 tanggal 22 Mei 1998, dia datang dengan dua kendaraan ke Wisma Negara. Satu dinaiki Prabowo dan satu kendaraan pengawal. Dia menemui ajudan Presiden untuk minta bertemu Presiden.
“Saya orangnya naif dan polos-polos saja. Kalau saya lihat sekarang, mungkin mereka tegang lihat saya datang dan saat itu banyak pengawal di sana.”
“Saya datang dengan pakaian loreng, pakai kopel, dan bawa senjata. Saya melepas kopel dan senjata saya karena itu etika dalam militer,” papar Prabowo.
Begitu bertemu, menurut Prabowo, Habibie mengatakan penggantian itu keputusannya. “Anehnya, beliau mengatakan penggantian itu atas permintaan Pak Harto,” kata Prabowo.
Jawaban Habibie berubah lagi ketika Prabowo menemui Habibie di rumahnya di Jerman tahun 2004 sebelum Konvensi Golkar untuk membuat klarifikasi atas pernyataan Habibie—antara lain di depan para editor media Jerman di Asia—seolah-olah Prabowo akan melakukan kudeta.
“Saya bertemu Habibie di rumahnya. Siangnya kami makan di rumah makan china, lalu dia mengajak ke rumahnya. Kami bertemu dari pukul 13.00 sampai 23.00. Saya jelaskan semua dan dia mengatakan yang meminta saya mundur adalah negara superpower,” paparnya.
Prabowo mengakui, dia memang sempat merasa karena kedekatannya, Habibie akan memakai dia. “Saya ingin melihat transisi yang smooth, smooth landing untuk Pak Harto karena beliau juga orang yang dibesarkan Pak Harto, dan demi bangsa kita. Jangan lupa, ketika itu ekonomi kita hancur, nilai rupiah hancur, terjadi capital flight,” tuturnya menjelaskan.
Prabowo mengatakan sudah menyadari dari sejarah, jika seorang pemimpin turun, semua yang dekat dengan pemimpin itu juga akan turun. “Saya punya intuisi saya akan diganti, tetapi itu biasa saja,” kata Prabowo. “Saya menjunjung tinggi konstitusi dan saya tidak mengeluh atas keputusan presiden (untuk mundur malam itu juga dari jabatan Panglima Kostrad).
Tentang kudeta
Juga insinuasi di dalam buku seolah-olah dia akan kudeta, dia pernah menulis surat kepada Habibie menjelaskan soal ini dan Habibie tidak pernah membantah penjelasannya.
Permintaan Prabowo agar penggantiannya ditunda tiga bulan lagi adalah untuk memperlihatkan pergantian pemimpin itu biasa dan dapat berjalan mulus. Ketika Habibie memutuskan dia harus diganti malam itu juga, dia menerima tanpa mengeluh.
“Bandingkan dengan kejadian di Thailand. Thaksin memberhentikan panglima angkatan darat, bukannya dilaksanakan, malah dikudeta,” ujar Prabowo. “Kalau betul tuduhan niat saya tidak baik, saya saat itu memimpin 34 batalyon. Saya bisa lakukan dan kenapa saya harus datang sendirian kepada beliau.”
Yang tidak disebutkan dalam buku, Kamis malam sekitar pukul 23.00 Prabowo bertemu Habibie. Mereka berpelukan dan Prabowo menyerahkan pernyataan dukungan 44 ormas Islam kepada Habibie. Namun, situasi berubah cepat keesokan paginya.
Di luar itu, semua asisten Prabowo di Kostrad berada di bawah komando Panglima Komando Daerah Militer Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin.
Tidak ingin dendam
Ditanya apakah akan menuntut secara hukum, Prabowo mengatakan akan berbicara dengan tim hukumnya. Dia mempertimbangkan menulis buku.
“Saya melihat dari sisi positif. Pergantian itu karena pertimbangan politik, saya dianggap dekat dengan keluarga Soeharto. Itu hak beliau sebagai Presiden,” katanya menambahkan.
Dia mengatakan tidak ingin mendendam atau sakit hati. “Benar saya kecewa dan menyesalkan, tetapi mari melihat ke depan. Banyak pekerjaan harus dilakukan daripada pemimpinnya saling mencela dan meminta pujian. Masalah kita sangat besar: flu burung, pengangguran, kemiskinan, sumber daya alam dikuasai asing. Jadi, setelah 61 tahun merdeka, kita tetap miskin.”
Wiranto
“Saya juga tidak ingin perjuangan saya tumpul karena tidak jadi capres,” terangnya.
Lalu kenapa memilih bergabung kembali dengan Golkar? “Saya dulu berasal dari Golkar. Sehingga tidak langsung saya berasal dari sana,” tutup Ketua Umum Hanura ini. -detikMantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Wiranto dan Wakil Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Salahuddin Wahid dideklarasikan sebagai calon presiden dan wakil presiden dari Partai Golongan Karya. Pasangan ini menawarkan lima agenda penyelamatan bangsa. Wiranto yang diterpa tuduhan terlibat pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam kasus kerusuhan Mei 1998 dan Timor Timur berjanji akan menegakkan hukum dan perlindungan HAM.
Penilaian seorang Faisal Basri
Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an lewat buku-bukunya yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an. Kalau tak salah, judul-judul bukunya selalu dialawali dengan kata ”sinopsis,” ada Sinopsis Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi Moneter, dan Sinopsis Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati ilmu ekonomi dari buku-bukunya yang mudah dicerna.Pada suatu kesempatan, Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya untuk merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk menulis lebih serius sehingga bisa menghasilkan buku teks yang lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat Pak Boed untuk kembali ke kampus dan menyisihkan waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak lagi berminat untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa tugasnya selesai sebagai Menteri Keuangan di bawah pemerintihan Ibu Megawati.
Pak Boed dan Pak Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko Perekonomian) bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi yang “gonjang-ganjing” di bawah pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan. Pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah hingar bingar masa kampanye seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya, dua menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata perekonomian tak mengalami gangguan berarti. Kedua ekonom senior ini bekerja keras mengawal perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan keempat 2004 mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga sekarang.
Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK, perekonomian Indonesia mengalami kemunduran. Tatkala muncul gelagat Pak SBY hendak merombak kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed bertemu. Niat para kolega ini adalah membujuk Pak Boed agar mau kembali masuk ke pemerintahan seandainya Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya ini juga mengajak Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut luluh dengan pengharapan mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko Perekonomian. Mungkin sahabat-sahabat saya itu masih terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang giliran yang muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom muda untuk mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib Basri, Mas Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih atau jauh lebih muda dari saya.
Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah seorang anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus, dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap (jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga menjadi sekretaris DEN. Pak BOed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia sempat jadi menteri pada masa transisi.
Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya. Lebih banyak mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang “nyerempet-nyerempet,” jawabannya cuma dengan tersenyum. Saya tak pernah dengar Pak Boed menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun.
Tak berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak Boed ketika hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan dipanggil Wapres. Sebelum meluncur bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: “Tak ada yang konflik kepentingan, kan? Ayo kita jalan, Bismillah … Keesokan harinya, saya membaca di media massa bahwa sekeluarnya dari ruang pertemuan dengan Wapres, semua mereka berwajah “cemberut” tanpa komentar satu kata pun kepada wartawan.
Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak memberikan “amplop” kalau berurusan dengan DPR. Tentang ini, saya dengar sendiri perintahnya kepada Mas Anggito.
Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta tatkala Pak Boed masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua mereka.
Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di Supermarket dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja. Rasanya, hampir semua orang di sana tak sadar bahwa si pendorong keranjang itu adalah seorang Menko.
Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin di bandara Soekarno Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang tunggu) bercerita pada saya pengalaman mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain, kesan paling mendalam keduanya adalah sikap rendah hati dan kesederhanaannya.
Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai fasilitas yang memang terkesan serba “wah.” Dengan tak banyak cingcong, ia mencoret banyak item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebh mewah dari mobil dinas gubernur.
Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta, datang saja ke kawasan Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II. Kebetulan kantor kami, Pergerakan Indonesia, persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah itu tergolong sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.
Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF, simbol Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan segala tuduhan miring lainnya. Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari sosok Pak Boed yang kian terasa langka di negeri ini.
Maju terus Pak Boed. Doa kami senantiasa menyertai kiprah Pak Boed ke depan, bagi kemajuan Bangsa. Blog Faisal Basri
Kesimpulannya:
2 dari 3 calon Wakil Presiden kita adalah Ketua Umum Partai Politik (Orang Parpol) dengan kesamaan latar belakang militer, dan beberapa kali terbentur dengan kedekatan dengan masalah Hak Asasi Manusia (HAM) terutama dikaitkan dengan Kerusuhan Mei 1998 disaat tumbangnya rezim Soeharto namun mereka menyangkalnya.
Dalam dunia politik hal yang lumrah untuk berubah rubah pandangan hari ini bisa a besok bisa B, meminjam pepatah jawa isuk tempe sore dele (pagi tempe sore jadi kedelai) alias mencla mencle walaupun di perkuat dengan seribu satu pembenaran.
Persamaan berikutnya dari kedua Cawapres Prabowo dan Wiranto yaitu jauh jauh hari sebelum Pemilu digelar keduanya Berambisi untuk menjadi RI-1 (Bukan RI-2), bahkan salah dalam satu wawancara bahasa Inggris di Metro TV, Prabowo sempat mengatakan saya tidak cari pekerjaan karena saya sudah kaya, dan menjadi Wapres bukanlah solusi dari keinginan yang ingin di realisasikannya. Namun sekali lagi politik itu biasa kalau berubah rubah, namun apakah rakyat bisa percaya akan semua janji janji yang politikus ucapkan akan bisa di realisasikan sementara kesehariannya saja perkataannya berubah rubah?
Tanpa berusaha menonjolkan salah satu calon sipil yaitu Boediono, hanya dia yang non partisan (pejabat karir), dan sebelumnya tidak menyangka akan dijadikan Cawapres.
Terlepas dari kebijakan ekonominya yang dinilai Pro Neo-Liberalisme, bisa Anda baca sendiri opini bung Faisal Basri di atas, karena Faisal Basri bukan orang politik dan tidak memiliki kepentingan politik berbeda dengan Rizal Ramli.
Namun ini kan hanya penglihatan saya seorang rakyat jelata yang awam, mungkin Anda punya penilaian lain? komen aja deh
Acuan referensi: Wikipedia indonesia, blog faisal basri, kompas, detik,tokohindonesia.com, vivanews, prabowosubianto.info, website partai hanura.
Filed Under: Ruang Hatiku





