
Hasyim Muzadi dan M Jusuf Kalla di suatu kesempatan
Disebuah iklan Capres JK-Wiranto Ketua Umum PB-NU KH Hasyim Muzadi secara terbuka memuji kepemimpinan dan figur Capres Jusuf Kalla. Demikian juga pada saat Rapat Kerja Nasional Muslimat Nahdlatul Ulama di Makassar pada Sabtu (30/5), Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi secara terbuka menyampaikan harapannya agar pasangan calon presiden koalisi Partai Golkar dan Partai Hanura, Jusuf Kalla – Wiranto terpilih. Akan tetapi, harapan itu disampaikannya tanpa menyebutkan nama Kalla ataupun Wiranto.
Terlihat semakin jelas kecondongan haluan politik Ketua PBNU ini, dan hal itu pulalah yang menyebabkan beberapa tokoh NU akhirnya menyarankan kepada beliau, Pah Hasyim untuk sementara Non-Aktif mengingat organisasi NU sebaiknya tidak terlibat politik praktis.
Desakan itu dikemukakan Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Syariah DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) KH Noer Iskandar SQ usai haul dan ulang tahun Pondok Pesantren Asshiddiqiyah ke-24, di Kedoya Jakarta Barat, Minggu.
Hadir dalam kegiatan ini, antara lain, Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj dan Andi Djamaro Dulung serta sejumlah kiai lainnya.

Hasyim Muzadi dan JK
“Kita minta Pak Hasyim fair, kalau mau dukungan-mendukung capres, ya konsekuensinya jabatan sebagai Ketua umum PBNU harus dilepas,” katanya.
Ketua Umum Majelis Pengasuh Pondok Pesantren se-Indonesia ini menambahkan, tidak seharusnya PBNU terlibat dalam dukung-mendukung capres karena NU adalah organisasi keumatan.
“Tidak bisa dong, dia ikut terlibat dukung-mendukung capres. NU itu organisasi keumatan, bukan organisasi politik,” katanya.
Karena itu, kata KH Noer, akibat manuver KH Haysim yang terjun ke politik praktis, maka otomatis badan-badan otonom NU juga mulai mengikuti langkah Hasyim terlibat politik praktis.
“Ya, tidak adil dong, kalau Pak Hasyim sendiri terlibat dukung-mendukung, kemudian dia melarang kader NU lainnya tak boleh masuk ke politik praktis,” katanya.
Ketika ditanya mengenai alasan KH Hasyim terlibat dukung-mendukung secara individu dan tak bawa institusi PBNU, KH Noer meragukan hal itu.
Dia mengatakan, sulit membedakan antara KH Hasyim secara pribadi dan posisinya sebagai Ketua Umum PBNU. “Dalam praktiknya di lapangan, sulit membedakan sebagai tindakan pribadi dan dia sebagai Ketua umum PBNU,” katanya.
Andi Djamaro Dulung juga mendukung pernyataan KH Noer yang meminta Hasyim Muzadi nonaktif dari jabatannya di PBNU. “Sudah benar pernyataan KH Noer yang meminta kepada Pak Hasyim nonaktif,” katanya.
Sedangkan KH Said Aqil Siradj ketika dimintai komentarnya terkait banyaknya capres yang meminta dukungan pesantren, mengatakan hal sebagai hal yang wajar dan menumbuhkan dinamika kehidupan pesantren.
“Tak apa-apa, banyak capres ke pesantren. Itu menumbuhkan dinamika kehidupan pesantren,” katanya.
Ref: Antara
Artikel Menarik Lain: