Borneo Adventure
Barcode Scanner

Aksi "Jangan Bunuh KPK" Dengan Darah

Aksi Oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia Mendukung KPK

Aksi Oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia Mendukung KPK

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) menggelar aksi cap jempol darah di halaman depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jln. H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (2/7). Aksi itu dilakukan guna memberi dukungan kepada KPK untuk terus menjalankan tugasnya.

Para mahasiswa yang datang dari berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Negeri Jambi, terlebih dahulu melukai jempol mereka dengan jarum pentul. Jempol yang sudah berdarah itu kemudian dicapkan di atas sehelai kain putih berukuran 100 x 30 cm dengan tulisan “Jangan Bunuh KPK”.

Koordinator BEM-SI Suranto Wahyu dalam orasinya menyatakan, sangatlah miris pada saat KPK mulai menunjukkan prestasi dalam upaya pemberantasan korupsi, pada saat itu pula mulai gencar usaha dari berbagai pihak untuk menggembosi lembaga yang dianggap sebagai superbody itu. Disebutkan, salah satu upaya untuk “membunuh” KPK dan Pengadilan Tipikor yang merupakan institusi pemberantasan korupsi adalah dengan cara melemahkannya melalui legislasi RUU Pengadilan Tipikor.

Jika sampai batas waktu yang ditetapkan Mahkamah Konstitusi pada 19 Desember 2009 RUU tersebut tidak rampung, konsekuensinya adalah pembubaran Pengadilan Tipikor. “Ada indikasi banyak pemangku kepentingan yang kurang nyaman dengan keberadaan KPK dan Pengadilan Tipikor,” katanya.

Oleh karena itu, BEM-SI menyatakan dukungannya terhadap KPK untuk melakukan pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu dan mendesak DPR RI untuk segera mengesahkan RUU Pengadilan Tipikor sebelum masa tugasnya berakhir. “Kami tak rela alat pemberantas korupsi dibunuh secara sistematis. Buktinya DPR sampai sekarang belum juga merampungkan pembahasan RUU Pengadilan Tipikor, padahal batas waktunya mepet, pertengahan Desember ini,” ujarnya lagi.

Ayo Dukung KPK Jangan Sampai Tak Berdaya

Ayo Dukung KPK Jangan Sampai Tak Berdaya

Para mahasiswa itu menyerahkan kain yang sudah dicap jempol darah tersebut kepada Juru Bicara KPK Johan Budi. “Apa pun yang terjadi, pemberantasan korupsi jalan terus,” ujar Johan.

Dia menyebutkan, aksi tersebut merupakan bentuk dukungan nyata terhadap kinerja KPK. Dukungan pertama diberikan masyarakat profesional, baik itu pengamat politik, hukum, dan politisi propemberantasan korupsi. Kemudian, dua hari lalu, sekitar enam puluh pelajar SMA juga melakukan aksi serupa, meminta agar KPK tak digembosi.

Dipertanyakan

Sementara itu, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang tergabung dalam Koalisi Penyelamat Pemberantasan Korupsi (KPPK) mempertanyakan komitmen Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pemberantasan korupsi. Komitmen Yudhoyono untuk memerangi korupsi dinilai lemah, khususnya dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

“Yang disampaikan utusan dari pemerintah di DPR tanggal 30 Juni 2009 tersebut justru melemahkan substansi materi dalam RUU Pengadilan Tipikor. Padahal semua fraksi pada dasarnya tidak mempermasalahkan lagi komposisi 3 hakim ad hoc dan 2 hakim karier. Mengapa pemerintah malah kembali mempermasalahkan hal tersebut. Komposisi hakim ini merupakan hal yang sensitif dari RUU Pengadilan Tipikor,” ujar Febri Diansyah, peneliti hukum Indonesia Corruption Watch dalam dalam konferensi pers yang digelar KPPK di Kantor Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) Jln.Talang, Tugu Proklamasi, Jakarta, Kamis (2/7).
(Pikiran Rakyat)

Artikel Menarik Lain:

Filed Under: Ruang Berita Terkini

Comment using your Facebook

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.