Borneo Adventure
Barcode Scanner

Bolehkan Presiden Beberkan Data Intelijen?

Presiden SBY memberikan keterangan ancaman teror dari sumber intelijen

Presiden SBY memberikan keterangan ancaman teror dari sumber intelijen

Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng mengatakan, semua pihak jangan buru-buru menyatakan bahwa peledakan bom di Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriottt tak berkaitan dengan hal-hal tertentu. Pernyataan Andi ini menanggapi respon balik sejumlah pihak yang meminta pemerintah tidak memolitisasi peledakan bom dengan hal-hal yang bersifat politis. Sebelumnya, SBY mengatakan, berdasarkan informasi intelijen, peledakan tersebut kemungkinan terkait kekecewaan terhadap pemilihan presiden.

Hal itu dikatakan Andi saat dihubungi wartawan melalui telepon, di kawasan Mega Kuningan. Presiden SBY dan rombongan yang mengunjungi lokasi kejadian, tak memberikan secuil keterangan pun kepada wartawan. “Presiden meminta aparat mengungkap mengungkap berdasarkan data-data yang ada, baik data TKP maupun data dari intelijen, semua harus diungkapkan. Jangan kemudian buru-buru dan menganggap tidak ada kaitannya dengan ini itu,” kata Andi.

Data-data tersebut, menurut Andi, akan diinvestigasi oleh para ahlinya. “Kalau tidak ada kaitan ya sudah,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Andi, semua kemungkinan harus diselidiki. Pernyataan Presiden yang dinilai sejumlah pihak terlalu dini dan mendahului penyelidikan kepolisian, karena berdasarkan informasi dari intelijen. “Yang dikatakan Presiden, ada data-data intelijen yang A1, bahwa ada gerakan-gerakan tertentu yang ingin menggagalkan proses pemilu. Tapi apakah berkaitan dengan pemilu atau tidak diselidiki dulu, baru tahu kaitannya,” ungkap dia.

Pernyataan Presiden, lanjut Andi, agar masyarakat lebih waspada atas segala kemungkinan yang mengancam keamanan negara.

Mengenai keinginan cawapres PDI Perjuangan-Gerindra, Prabowo Subianto, yang ingin menghadap Presiden guna mengklarifikasi, Andi mengakui belum mengetahuinya. “Saya belum mendengar (pernyataan Prabowo),” jawab Andi.

Sementara itu, dikeluarkannya travel warning oleh dua negara, Australia dan Singapura, tak ingin ditanggapi lebih jauh oleh Andi. Ia mengatakan, sebagai pemimpin negara, tentunya akan menjamin warga negara dan seluruh komponen bangsa.

Sementara itu, Tim Advokasi pasangan capres dan cawapres Jusuf Kalla dan Wiranto mempertanyakan maksud Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang membeberkan sejumlah fakta dan bukti intelijen dalam pidato kenegaraannya kemarin, Jumat (17/7). Pidato yang disampaikan kepada masyarakat luas ini dimaksudkan sebagai respon Presiden terhadap peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton, Kuningan.

Menurut Koordinator tim advokasi JK-Wiranto, Chairuman Harajap, seharusnya fakta dan bukti intelijen itu tidak dilemparkan ke publik karena hanya akan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. “Kita prihatinkan ada info-info yang berupa data intelijen yang dilemparkan ke masyarakat. Kalau benar itu data intelijen, tentu digunakan untuk mengambil kebijakan,” kata Chairuman dalam keterangan pers bersama Tim Kampanye Nasional pasangan capres Mega-Prabowo di Kantor DPP Golkar, Sabtu (18/7).

Lagipula, menurut Chairuman, data-data itu belum teruji kebenarannya dan seharusnya menjadi dokumen rahasia negara. Oleh karena itu, penyebaran fakta-fakta tersebut ditujukan untuk menyebar rasa takut di tengah masyarakat. “Kalaulah memang sudah ada bukti foto, video tentang seseorang yang memegang senjata api dan terlatih menembak, saya kira sudah cukup bukti utk mencari dan menangkapnya,” lanjut Chairuman.

Sementara itu, anggota tim advokasi pasangan Mega-Prabowo, Elza Syarief mengatakan Presiden SBY terlalu cepat berkesimpulan. Pernyataannya bersifat prematur. “Polisi dan intelijen belum secara tuntas mencari tahu tapi Presiden sudah mendahului dengan kesimpulan. Buktinya apa?” tanya Elza.

Selang beberapa jam saja, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri maupun Menko Polhukam Widodo AS segera merilis informasi ledakan bom Kuningan. “Namun, itu pun masih perkiraan, belum masuk penyelidikan,” tandas Elza.

Sementara itu, Pengurus Besar Pemuda Al-Irsyad mengutuk keras aksi pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, dan menyampaikan rasa duka mendalam dan belasungkawa kepada keluarga korban meninggal dan yang terluka.

“Ini tindakan biadab yang harus dikutuk sekeras-kerasnya, apapun motifnya dan siapapun pelakunya,” kata Geis Chalifah, Ketua umum PB Pemuda Al-Irsyad dalam rilisnya, Sabtu (18/7/2009).

Menurutnya, cara-cara kekerasan dan brutal seperti ini amat bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya bangsa, serta semakin merusak citra Indonesia di mata dunia. Akibatnya, orang luar negeri akan takut untuk datang ke Indonesia dan menjalin hubungan bisnis dan budaya di negeri ini. Dan itu amat merugikan negara dan rakyat Indonesia.

PB Pemuda Al-Irsyad meminta kepada seluruh elemen bangsa untuk makin merekatkan diri dalam menghadapi aksi teror ini, yang bisa jadi akan terjadi lagi di masa datang. Dan meminta seluruh pihak untuk menghindarkan dari dari menjadikan aksi pengeboman ini sebagai alat bagi kepentingan pribadi dan golongan, serta untuk menyerang pihak lain.

“Mari kita saling menguatkan dan bekerja sama. Kita serahkan kepada yang berwenang untuk mengusut tuntas aksi teror ini, dan mengungkap motif serta pelakunya secara profesional, tanpa intervensi pihak lainnya,” kata Geis Chalifah.

Pemuda Al-Irsyad tidak lupa menyatakan perlunya evaluasi menyeluruh atas kinerja aparat keamanan dalam mengantisipasi aksi terorisme. Sebab, aksi bom di JW Marriott dan Ritz Carlton ini membuktikan lemahnya aparat keamanan, khususnya kalangan intelijen dalam mengantisipasinya. (Kompas/Okezone)

Filed Under: Ruang Berita Terkini

Toko Barcode

Comment using your Facebook

RSSComments (9)

Trackback URL

Comments are closed.