Kisah Nadjib, Menjalani Hidup Tanpa Empedu
mesin kasir | Jul 20, 2009 | Comments 1

Kantung Empedu Harus Diangkat
Jika kantung empedu—berfungsi menyimpan lemak yang sudah dicernakan oleh cairan empedu—sudah tidak berfungsi akibat infeksi, tak ada jalan lain terkecuali ‘si kantung’ harus diangkat dari tubuh. Tapi, pascaoperasi, seseorang tanpa kantung empedu masih bisa hidup normal, tentunya dengan pantangan-pantangan tertentu.
M Nadjib, seorang karyawan swasta di Jakarta, hanya bisa pasrah saat dokter menyatakan bahwa kantung empedunya harus diangkat karena sudah tidak berfungsi akibat infeksi. Meski semula khawatir akan kesehatannya, namun setelah tiga tahun pascaoperasi tersebut pria ini tetap bisa menjalani hidup secara normal tanpa hambatan berarti.
Hal serupa juga dialami Kiara, seorang karyawan swasta di Jakarta, yang selama ini selalu mengeluh sakit di bagian perut yang diiringi rasa mual dan muntah, terutama setelah makan. Alhasil, Kiara menjadi malas makan dan berat badannya menurun drastis.
Menurut Kepala Komite Medik Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Brigjen (Purn) Dr Boediono Soehendro, diagnosa penyakit kantung empedu itu sumir dengan penyakit maag karena sering terjadi nyeri di ulu hat dan mual yang diakibatkan rasa seolah mau muntah. Terutama setelah makan makanan berlemak.
“Untuk mengetahui apakah seseorang mengidap penyakit kantong empedu harus dilakukan pemeriksaan fisik dan USG ultrasonografi,” ujar Boediono.
Dia menjelaskan, rasa sakit yang kerap dialami Kiara belakangan ini akibat batu yang bersarang di kantong empedu dalam tubuhnya. Diagnosa ini juga ditunjang hasil pemeriksaan USG, sampai akhirnya dokter memutuskan kantung empedunya harus diangkat melalui operasi.
Empedu merupakan cairan bening dengan posisi berada di hati yang berfungsi untuk mencerna lemak dan selanjutnya disimpan di kantung empedu.
Dalam prosesnya, kantung empedu akan bekerja setelah kita makan dengan cara memompa kantung. Kebanyakan penyakit kantung empedu diakibatkan oleh peradangan atau batu yang merupakan hasil endapan kolesterol.
Berdasarkan hasil penelitian medis, penyakit kantung empedu sebagian besar diakibatkan kolesterol kolesterol yang terlalu banyak di tubuh dan tidak ketahuan sehingga menjadi pekat dan mengendap di kantung empedu dan akhirnya dalam waktu lama bisa berubah menjadi batu.
Nadjib mengaku selama ini termasuk orang yang sangat menjaga makanan, selain hasil medical check up juga menunjukkan tidak ada penyakit kolesterol. Bahkan, makanan goreng-gorengan yang menjadi favoritnya, selalu dibuat di rumah, bukan beli di pinggir jalan. “Tapi hasil USG saat itu menujukkan bahwa kantung empedu saya sudah terinfeksi dan bernanah sehingga harus diangkat, sebab kalau pecah bisa menjadi kanker hati,” ungkap Nadjib kepada Investor Daily baru-baru ini.
Menurut Boediono, peradangan yang terjadi pada kantung empedu, disebabkan oleh kuman dari saluran pencernaan dan jika dibiarkan terlalu lama dapat menimbulkan infeksi yang membuat kantung empedu tidak berfungsi. Bahkan, jika peradangan ini terjadi selama bertahun-tahun mengakibatkan cairan empedu menjadi kental dan berlumpur lalu mengendap dan akhirnya mengeras menjadi batu.
“Kalau sudah begitu, rasa nyeri semakin sering terjadi, terutama setelah makan makanan berlemak. Hal ini tentu kontradiktif dengan penyakit kolesterol yang identik dengan orang bertubuh gemuk,” ungkap Boediono.
Oleh karena itu, jika seseorang telah didiagnosa mengalami infeksi peradangan kantung empedu harus dilakukan pengobatan medis tanpa harus operasi.
Namun jika terjadi radang akut tentunya pasien harus mendapat perawatan intensif, karena kalau kantong empedu tersebut terus meradang dikhawatirkan bisa bernana dan pecah.
“Kalau pecah di dalam tubuh kami terpaksa melakukan operasi untuk dilakukan pencucian pada semua organ terkena cairan empedu tersebut agar tidak merusak pencernaan dan organ tubuh lain,” tambah Boediono.
Saat ini operasi menjadi satu-satunya pilihan untuk mengobati penyakit kantong empedu yang sudah meradang dan terdapat batu. Karena meskipun batu yang berada dikantong empedu sudah dihancurkan akan mengendap menjadi lumpur dan tidak keluar melalui saluran kencing seperti halnya yang terjadi pada pengindap batu ginjal.
Sejauh ini operasi masih menjadi satu-satunya solusi yang efektif. Karena kalau terjadi peradangan dan membatu maka kantung empedu tersebut tidak berfungsi lagi dan dikhawatirkan bisa menganggu fungsi hati, karena posisi kantong empedu adalah menempel di hati.
Kurangi Makanan Berminyak
Menurut Boediono, tidak perlu ada yang dikhawatirkan pascaoperasi pengangkatan kantung empedu, karena fungsinya meski tidak sebesar organ tubuh lainnya, seperti ginjal, hati atau limpa yang akan sangat berpengaruh terhadap tubuh manusia yang menimbulkan sakit permanen.
Pascaoperasi pasien harus menjalani diet dengan mengurangi makanan berminyak dan berlemak. Di luar itu pasein boleh mengonsumsi makanan lain, namun jangan lupa banyak makan buah dan berolahraga. Itupun olahraga ringan, seperti jogging sampai kondisi badannya pulih.
Namun, proses pemulihan badan tergantung kondisi tubuh pasien, ada yang sebulan sejak masuk rumah sakit atau seminggu pascaoperasi sudah kembali beraktivitas. Namun, ada pula yang butuh waktu lebih lama.
“Tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena kalaupun nanti ternyata konsumsi minyak berlebih di tubuh akan keluar melalui pencernaan dan biasanya terjadi diare. Selama pasein itu bisa mengatur konsumsi minyak dalam tubuhnya tidak akan terjadi apa-apa,” ungkap Boediono
Hal tersebut juga dialami Nadjib yang selama tiga bulan pascaoperasi terus menjaga makannya dengan mengganti minyak dengan kolesterol rendah. Dan sejak operasi tahun 2005, memang kondisi tubuhnya menurun, tapi itu tidak mengurangi aktivitasnya sebagai karyawan. Memasuki tahun ketiga pascaoperasi, berangsur-angsur kondisi tubuhnya terus membaik, bahkan kini sudah bisa melakukan aktivitas olahraga favoritnya, yaitu berenang.
Bedah Laparoskopi
Kini, pemulihan pascaoperasi kantung empedu juga semakin singkat berkat teknik bedah invasif minimal atau minim sayatan alias laparoskopi. Teknik ini memiliki banyak kelebihan dibandingkan bedah konvensional, karena menjanjikan masa rawat yang singkat, pemulihan lebih cepat dan lebih kosmetis.
”Bahkan, berangsur-angsur bekas sayatan akan menghilang karena infeksi luka sayatan lebih kecil dibandingkan cara bedah konvensional dengan sayatan lebar,” ungkap Boediono.
Teknik bedah demikian mulai diperkenal di Indonesia sejak 1992 dan sudah banyak dilakukan di rumah sakit besar di kota dan hampir menggantikan operasi konvensional, seperti kantong empedu, usus buntu, kanker usus, dan potong hati. Prosedurnya menggunakan alat bantu kamera yang dapat dimasukkan ke dalam tubuh dan mampu meneropong rongga abdomen dengan akurat saat dilakukan operasi.
Teknik bedah laparoskopi pertama kali diperkenalkan oleh George Kelling pada 1901 yng menciptakan metode menggunakan alat untuk meneropong rongga abdomen. Setelah 31 tahun kemudian, Pablo Luis Mirriza, seorang dokter dari Argentina melakukan operasi cholangiography untuk pertama kali, dan teknik demikian terus berkembang pesat hingga sekarang. (Investor)
Filed Under: Ruang Kesehatan





