Borneo Adventure
Barcode Scanner

Inge, Calon Dokter Hewan Meninggal Karena Flu Babi, Diisukan Tetular Saat Praktik Lapangan

Kampusnya Unair Membantah Ine Tertular Saat Praktik

Kampusnya Unair Membantah Ine Tertular Saat Praktik

SATU lagi pasien influenza A (H1N1) alias flu babi meninggal di RSUD dr Soetomo. Dia adalah Inge Natasha, calon dokter hewan dari Universitas Airlangga (Unair). Kemarin, mahasiswi fakultas kedokteran hewan itu meninggal lantaran mengalami pneumonia (radang paru-paru) berat.

Inge memperpanjang daftar korban meninggal lantaran virus H1N1. Sebelumnya, tiga pasien sudah tiada dalam sepekan terakhir. ”Semua meninggal karena memiliki penyakit penyerta. Yaitu, radang paru-paru akut,” jelas Wakil Direktur Pelayanan Medik (Wadir Yanmed) RSUD dr Soetomo dr Urip Murtedjo SpBKL.

Inge, mahasiswi angkatan 2007 itu, datang dengan radang paru-paru yang sudah parah. Napasnya terganggu, demamnya begitu tinggi. Rumah sakit pun memasang mesin alat bantu napas pada perempuan asal Tuban tersebut. Dia langsung dimasukkan ke ruang isolasi khusus.

Inge juga dites untuk mengetahui apakah terjangkit virus H1N1 atau tidak. Hasilnya, pneumonia yang dia derita makin menjadi lantaran dia positif terjangkit. ”Pada 21 Agustus lalu, dia masuk ke ruang isolasi khusus anestesi dan dipasangi respirator,” ungkap Urip.

Meski begitu, Inge tetap tak bisa bertahan. Dia meninggal sekitar pukul 10.00. Sekitar pukul 12.00, dia dibawa pulang. ”Sejatinya, H1N1 tidak terlalu ganas. Virus itu menjadi berbahaya ketika pasien memiliki penyakit lain seperti mahasiswi tersebut,” jelas Urip.

Sebelum dirujuk ke rumah sakit milik pemprov tersebut, Inge sempat dirawat di salah satu rumah sakit di Tuban. Dia juga tidak memiliki riwayat melakukan perjalanan ke negara yang rawan virus influenza A (H1N1). ”Memang, pneumonianya sudah sangat buruk,” tegasnya.

Jenasah Inge Ketika Dibawa Pulang (Petugas Memakai Masker)

Jenasah Inge Ketika Dibawa Pulang (Petugas Memakai Masker)

Sementara itu, Wakil Dekan I FKH Unair Anwar Ma’ruf tak mau bicara banyak soal kematian Inge. Sebab, kondisinya memang sedang liburan. ”Kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Dia menyatakan, sebelumnya Inge sempat melakukan pengabdian masyarakat (pemas) di Bondowoso. Tapi, 9 Agustus lalu, kegiatan tersebut selesai dan para mahasiswa langsung kembali ke rumah masing-masing. ”Saya sudah cek ke teman-teman sekelompoknya. Inge dalam keadaan sehat walafiat saat selesai pemas,” ungkapnya.

Untuk menghindari kejadian serupa, Anwar langsung menghubungi teman-teman sekelompok Inge. Hasilnya, semua anggota tim Inge berkondisi sehat. Bahkan, saat pemas berlangsung, Inge menjadi satu-satunya mahasiswi yang tetap bertahan ketika teman-temannya sakit. ”Saya tidak bisa menduga hingga seperti ini, padahal waktu itu dia sehat-sehat saja,” kenang Anwar.

Keluarga melepas kepergian Ine untuk selamanya

Keluarga melepas kepergian Ine untuk selamanya

Sementara itu, hingga saat ini, total delapan pasien influenza A (H1N1) dirawat di ruang isolasi khusus reanimasi. Menurut Urip, cara paling tepat untuk menghindarkan kematian karena pneumonia adalah berobat dengan segera. Terlebih jika mengalami sesak napas yang bercampur demam tinggi dan flu. ”Secara teori, H1N1 hanya 0,4 persen mengarah ke kematian. Persentase itu semakin besar ketika pasien memiliki penyakit bawaan lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, jenazah Inge tiba di rumahnya, Gang Guorejo III, Gedongombo, Tuban, sekitar pukul 15.00. Ibu Inge, Ninik Sulistyowati, terus menangis. Ia juga tak terima anaknya dinyatakan meninggal lantaran pneumonia yang diperburuk virus AH1N1.

Untuk menyakinkan itu, Edy, ayah Inge, membuka kafan anaknya. Ia lantas mencium jenazah Inge. Hal itu juga dilakukan oleh Ninik dan Piping Ratna Wulan, kakak Inge. Mereka sama sekali tak mengenakan masker. Itu berbeda dengan para pelayat yang nyaris seluruhnya bermasker.(JPNN)

Filed Under: Ruang Berita TerkiniRuang Kesehatan

Toko Barcode

Comment using your Facebook

RSSComments (9)

Trackback URL

Comments are closed.