'al-Zaidi' Pelempar Sepatu Bush Dari Irak Akhirnya Dibebaskan
Ruang Hati | Sep 13, 2009 | Comments 3
Senin nanti (14/9) Muntadar al-Zaidi dibebaskan. Jurnalis 30 tahun itu menghirup udara segar setelah sembilan bulan mendekam di penjara karena melemparkan sepatu ke arah mantan Presiden Amerika Serikat (AS) George W. Bush pada 14 Desember lalu. Sejak kemarin (10/9), Iraq dan negara-negara Arab mulai sibuk mempersiapkan sambutan heroik untuknya.

Akhirnya sang pahlawan dari Irak bisa menghirup udara segar kembali
Sejak lemparan sepatunya ditangkis Bush, wartawan stasiun televisi Al-Baghdadia tersebut menjadi pahlawan bagi sebagian besar warga Iraq. Terutama para pengikut ulama radikal Syiah Moqtada al-Sadar dan para pengikut setia mendiang Saddam Hussein. “Muntadar adalah seorang pemberani. Kebebasannya merupakan kemenangan besar bagi semua orang yang menentang pendudukan (AS),” tegas Jubir Gerakan Sadr, Salah al-Obeidi, seperti dilansir Agence France-Presse.
Bersamaan dengan itu, kelompok Suni yang setia terhadap Saddam menunjukkan reaksi senada. Kepada Durgham, saudara laki-laki Muntadar, mereka menyatakan siap menjadikan wartawan pemberani itu anggota parlemen. “Beberapa mantan petinggi militer era Saddam menawari Muntadar peluang menjadi salah seorang kandidat dalam pemilu parlemen yang akan datang. Mereka yakin, sebagian besar warga Iraq akan memberikan suara untuknya,” ungkap Durgham.
Tapi, menurut Durgham, saudaranya itu sama sekali tidak berminat menjadi politikus. “Dia ingin tetap disukai,” ujarnya kepada Associated Press. Konon, pahlawan pelempar sepatu tersebut masih belum bisa menentukan masa depannya. Yang jelas, dia mampu melakukan banyak hal baik dengan uang yang dijanjikan pemerintah. Rencananya, dia membangun panti asuhan atau lembaga bantuan para janda.
Rekan-rekan Muntadar di Al-Baghdadia yakin bahwa pelempar sepatu Bush itu akan kembali bergabung dengan media tersebut. Maka, sejak kemarin meja kerja dan komputer Muntadar dibersihkan dan dirapikan. “Dia pasti menolak tawaran menjadi selebriti di Beirut atau Kairo. Dia tidak akan meninggalkan tanah kelahirannya,” tegas Mohammed Wadeh. Sebelumnya, Muntadar dikabarkan menolak tawaran sejumlah stasiun televisi satelit di Jazirah Arab untuk menjadi penyiar.
Menjelang kepulangannya, status sosial Muntadar berubah drastis. Akhir tahun lalu, dia adalah wartawan biasa yang tinggal di rumah sederhana dengan dua kamar. Tapi, pekan depan, dia kembali ke sebuah apartemen penthouse yang diberikan pimpinan Al-Baghdadia sebagai imbalan. Sebab, maraknya pembahasan kasus Muntadar di media internasional membuat nama stasiun televisi swasta yang berbasis di Kairo itu ikut melejit.
Durgham pun kecipratan rezeki. Dia kini tinggal di sebuah flat mewah yang tidak jauh dari apartemen Muntadar. “Kami dijanjikan banyak uang. Emir Qatar menjanjikan kami sebuah kuda emas. Kolonel Moamar Kadhafi bakal menganugerahkan penghargaan tertinggi Libya (kepada Muntadar). Ada juga yang akan membelikannya sebuah mobil sport mewah,” beber Durgham seperti dilansir BBC.
Meski menuai banyak rezeki dari Al-Baghdadia, Durgham mengatakan bahwa Muntadar belum pasti kembali menekuni profesi lamanya setelah bebas nanti. “Dia yakin, beberapa pejabat pemerintah akan memboikotnya. Karena itu, dia mulai melirik organisasi kemanusiaan.” (JPNN)
Sejak lemparan sepatunya ditangkis Bush, wartawan stasiun televisiAl-Baghdadiatersebut menjadi pahlawan bagi sebagian besar warga Iraq. Terutama para pengikut ulama radikal Syiah Moqtada al-Sadar dan para pengikut setia mendiang Saddam Hussein. “Muntadar adalah seorang pemberani. Kebebasannya merupakan kemenangan besar bagi semua orang yang menentang pendudukan (AS),” tegas Jubir Gerakan Sadr, Salah al-Obeidi, seperti dilansirAgence France-Presse.
Bersamaan dengan itu, kelompok Suni yang setia terhadap Saddam menunjukkan reaksi senada. Kepada Durgham, saudara laki-laki Muntadar, mereka menyatakan siap menjadikan wartawan pemberani itu anggota parlemen. “Beberapa mantan petinggi militer era Saddam menawari Muntadar peluang menjadi salah seorang kandidat dalam pemilu parlemen yang akan datang. Mereka yakin, sebagian besar warga Iraq akan memberikan suara untuknya,” ungkap Durgham.
Tapi, menurut Durgham, saudaranya itu sama sekali tidak berminat menjadi politikus. “Dia ingin tetap disukai,” ujarnya kepadaAssociated Press. Konon, pahlawan pelempar sepatu tersebut masih belum bisa menentukan masa depannya. Yang jelas, dia mampu melakukan banyak hal baik dengan uang yang dijanjikan pemerintah. Rencananya, dia membangun panti asuhan atau lembaga bantuan para janda.
Rekan-rekan Muntadar diAl-Baghdadiayakin bahwa pelempar sepatu Bush itu akan kembali bergabung dengan media tersebut. Maka, sejak kemarin meja kerja dan komputer Muntadar dibersihkan dan dirapikan. “Dia pasti menolak tawaran menjadi selebriti di Beirut atau Kairo. Dia tidak akan meninggalkan tanah kelahirannya,” tegas Mohammed Wadeh. Sebelumnya, Muntadar dikabarkan menolak tawaran sejumlah stasiun televisi satelit di Jazirah Arab untuk menjadi penyiar.
Menjelang kepulangannya, status sosial Muntadar berubah drastis. Akhir tahun lalu, dia adalah wartawan biasa yang tinggal di rumah sederhana dengan dua kamar. Tapi, pekan depan, dia kembali ke sebuah apartemenpenthouseyang diberikan pimpinanAl-Baghdadiasebagai imbalan. Sebab, maraknya pembahasan kasus Muntadar di media internasional membuat nama stasiun televisi swasta yang berbasis di Kairo itu ikut melejit.
Durgham pun kecipratan rezeki. Dia kini tinggal di sebuah flat mewah yang tidak jauh dari apartemen Muntadar. “Kami dijanjikan banyak uang. Emir Qatar menjanjikan kami sebuah kuda emas. Kolonel Moamar Kadhafi bakal menganugerahkan penghargaan tertinggi Libya (kepada Muntadar). Ada juga yang akan membelikannya sebuah mobilsportmewah,” beber Durgham seperti dilansirBBC.
Meski menuai banyak rezeki dariAl-Baghdadia, Durgham mengatakan bahwa Muntadar belum pasti kembali menekuni profesi lamanya setelah bebas nanti. “Dia yakin, beberapa pejabat pemerintah akan memboikotnya. Karena itu, dia mulai melirik organisasi kemanusiaan.”
Filed Under: Ruang Berita Terkini





