Tarif Tol Naik Untuk Siapa? (Operator Untung Hampir Rp 400 Triliun)
Ruang Hati | Sep 27, 2009 | Comments 0
Tepat 3 jam lalu saat saya posting tulisan ini yaitu pukul 00.00 WIB 10 ruas jalan tol tarifnya dinaikan rata rata 15 persen. Kenaikan kali ini dibanjiri protes. Masyarakat, khususnya pengguna jalan tol merasa heran, kenapa naik? Bukannya turun atau bahkan kalau mungkin gratis. Toh pihak pengelola selama ini telah meraup untung triliunan rupiah dari bisnis tersebut. Menurut Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Nurdin Manurung, tarif tol disesuaikan berdasarkan besaran inflasi dari masing-masing daerah dalam dua tahun terakhir. Besaran nilai inflasi itu, bervariasi mulai dari 12,74 persen hingga 18,56 persen.
Kenaikan tarif atau penyesuaian tarif—berdasarkan bahasa Undang-Undang—didasarkan pada UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan. Tarif tol yang dinaikkan adalah Tol Jagorawi; Tol Jakarta-Tangerang; Tol Surabaya-Gempol; Tol Padalarang-Cileunyi; Tol Cawang-Tomang-Grogol-Pluit; Tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa; Tol Ulujami-Pondok Aren; Tol Palimanan-Kanci; Tol Semarang A, B, C; dan Tol Cawang- Tanjung Priok-Jembatan Tiga. Dari 10 ruas tol itu, tarif dasar ruas Tol Tangerang-Merak (72 kilometer) naik dari Rp 248 per km jadi Rp 394 per km. Untuk kendaraan roda empat golongan I, harus membayar tarif baru di ruas tol itu Rp 28.500 dari sebelumnya Rp 18.000.

Keuntungan yang besar dari operator jalan tol tidak diimbangi dengan perbaikan fasilitas yang memadahi, dibanyak ruas masih minim lampu penerangan, rambu dan kondisi jalan toll yang tidak bagus
Menaikkan tarif tol saat ini dinilai berbagai kalangan sangat tidak tepat. Karena, pihak pengelola belum maksimal memperhatikan sarana, kenyamanan, dan kemanan bagi jalan bebas hambatan itu. Contoh saja, kondisi Jalan Tol Tangerang-Merak yang sampai sekarang masih rusak. Selain itu sering macet, kurangnya lampu penerang, sering terjadi kecelakaan dan tindak kriminalitas. Para artis yang sering menggunakan jalur tol berkomentar seragam, terlalu!
Penyanyi Puput Pei malah meminta pihak pengelola menggratiskan sebagian ruas jalan tol. Bukannya menaikkan tarif. “Masak, saya dari Cengkareng mau ke Bogor, harus bayar tiket tol sampai tiga kali,” ungkapnya, Sabtu (26/9).
Artis kelahiran Jakarta yang menjalani bisnis pertanian dan peternakan di wilayah Sukabumi, Jawa Barat itu, mengaku sangat dirugikan akibat kenaikan tarif tol. “Sekarang saja masih sering macet, eh kok tarifnya berkali-kali naik. Pemerintah kadang kelewatan, nggak peka dengan situasi dan keadaan perekonomian yang dialami masyarakat,” tegas Puput.
SIAP DEMO
Hal senada disampaikan penyanyi dan presenter Intan RJ. Penembang lagu Cintaku Padamu ini siap berada di barisan depan jika masyarakat atau pengguna jalan tol akan menggelar demo menolak kenaikan tarif jalan tol. “Aku heran, kenaikkan tarif tol itu sangat tidak beralasan. Alasannya apa sehingga tarif tol harus naik? Padahal, yang kita tahu Jasa Marga itu sudah untung besar,” kecamnya, Sabtu (26/9).
Pemain sinetron Putri Korek Api ini malah menyesalkan, pelayanan di jalan tol sangat tidak baik dan kondisi jalannya yang tidak terawat. “Jalan tol itu kan artinya jalan bebas hambatan. Kita memilih masuk jalan tol karena ingin terbebas dari kecametan. tetapi kenyataannya, lewat tol tetap terkena macet. Jangan ngurus untungnya saja yang lancar. Ini sangat memberatkan,” ujar presenter infotainment Kiss Indosiar ini.
HARUS PEKA
Komedian yang jadi anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN), Eko Patrio, mengaku heran dengan langkah pemerintah yang tiba-tiba menaikkan tarif tol. “Seharusnya kan pemerintah lebih peka, karena baru saja dalam situasi Lebaran,” ucapnya, Sabtu (26/9).
Seharusnya menaikkan taril tol jangan buru-buru. “Lihat situasi dong!. Sebab, biarpun cuma tarif tol yang naik, tapi nantinya akan berpengaruh terhadap harga kebutuhan masyarakat. Nah, jika harga-harga kebutuhan pokok masyarakat naik akibat dari situ, apakah pemerintah serta merta melarangnya. Ya, jelas nggak mungkin, dong!” Begitu tegas Eko Patrio seraya mengungkapkan perasaan prihatinnya.”
SEJAHTERAKAN RAKYAT
Bintang film Hantu Jembatan Ancol, Nadila Ernesta, pun kesal kalau tarif tol naik lagi. “Jangan sampai deh naik. Kita sudah bayar pajak masih dibebani tarif tol yang makin mahal. Kasihan rakyat. Itu akan memicu kenaikan biaya transportasi dan harga sembako,” kata cewek seksi kelahiran Jakarta, 4 Februari 1988 ini.
Pacar Eno Netral ini berharap pemerintah mengurusi hal yang lebih penting dari pada menaikkan tarif tol yang justru membikin masyarakat semakin kesulitan ekonomi. “Banyak orang miskin yang perlu disejahterakan. Kayaknya, nggak penting banget tarif tol dinaikkan,” ujar bintang sinetron Allah Maha Besar, Rahasia Ilahi dan Takdir Ilahi itu.

Jalan tol yang belum bebas hambatan, karena masih sering macet
KEUNTUNGAN PENGELOLA
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Departemen Pekerjaan Umum (PU), Nurdin Manurung, menjelaskan saat ini pemerintah merencanakan membuat jalan tol sepanjang 3.087 km untuk melengkapi jaringan jalan nasional sepanjang 34.000 km. Saat ini jalan tol yang sudah terbangun sepanjang 690 km. Sebanyak 70 persen dari jalan tol sepanjang itu dioperasikan PT. Jasa Marga sebagai operator plat merah. Selebihnya dioperasikan swasta.
Berarti masih ada sisa 2.397 km yang direncanakan dibangun. “Ini masih dalam proses pra-konstruksi dan persiapan tender investasi.
Sebagai pengelola jalan tol terbesar, PT. Jasa Marga mengakui berhasil membukukan laba bersih Rp395,7 miliar pada semester I 2009, meningkat 8,5 persen dibanding periode yang sama 2008 Rp395,7 miliar.
“Naiknya laba bersih disumbang kenaikan pendapatan perusahaan pada periode yang sama sebesar 5 persen,” kata Direktur Utama PT.Jasa Marga, Frans S Sunito.
Secara rinci Frans memaparkan, pendapatan perusahaan pada semester I 2009 sebesar Rp1,702 triliun, sementara pada periode yang sama tahun lalu perusahaan meraih pendapatan Rp1,626 triliun.
Data yang diperoleh, pendapatan Jasa Marga pada 2008 mencapai Rp3,353 triliun atau naik 27 persen dari 2007 sebesar Tp2,645 triliun. Dari jumlah tersebut, tol menyumbangkan keuntungan dominan yaitu Rp3,319 triliun. Laba bersihnya sendiri mencapai Rp707,797 miliar atau melonjak 155 persen dari tahun 2007 yang hanya Rp277,981 miliar. Untuk laba usaha 2008 sebesar Rp1,371 triliun, naik 35 persen dari tahun 2007 sebesar Rp1,015 triliun.
TAK PERLU NAIK
Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengaku kaget terhadap besarnya keuntungan yang dikantongi sejumlah operator jalan tol. “Keuntungan sekitar Rp400 miliar dalam satu semester tersebut tidak sedikit,” katanya, Sabtu (26/9).
Dengan mengantongi keuntungan yang begitu besar, ia menegaskan pemerintah tidak perlu lagi menaikkan tarif jalan tol. Justru mendesak mereka meningkatkan layanan kepada pemakai jalan.
Tapi herannya, pemerintah malah merestui keinginan mereka menaikkan tarif. “Ini sama saja pemerasan. Kocek rakyat dikuras, kantong operator semakin dipertebal,” cetusnya.
Kecuali kalau operator tersebut merugi. Pemerintah boleh mempertimbangkan menaikkan tarif jalan tol yang dikelolanya.
Tapi itupun harus dilihat betul. Apa kerugian yang dialaminya itu karena operator bersangkutan masih kurang efisien atau karena kesalahan manajamen. Seperti jalan tol Merak. Operator yang mengelola jalan tol tersebut menderita rugi. Tapi tak berarti kerugian yang dialaminya tersebut harus dibebankan kepada pemakai jalan dengan menaikkan tarifnya yang begitu tinggi. Sebab jalan tol tersebut sebetulnya salah disain. “Ini karena kesalahan manajemen yang kurang cermat hingga salah hitung dan memprediksi saat membangun jalan tol Merak,” jelasnya.
Seharusnya, lanjut Tulus, operator bersangkutan yang menanggung kerugian tersebut seperti di Malaysia. “Di sini, pemerintah justru mengalihkan kerugian mereka ke masyarakat. Inikan tidak fair,” cetusnya. (Poskota/Kompas)
Pemberlakuan kenaikan tarif jalan tol mulai besok, Senin (28/9), dibanjiri protes. Masyarakat, khususnya pengguna jalan tol merasa heran, kenapa naik? Bukannya turun atau bahkan kalau mungkin gratis. Toh pihak pengelola selama ini telah meraup untung triliunan rupiah dari bisnis tersebut.
Menaikkan tarif tol saat ini dinilai berbagai kalangan sangat tidak tepat. Karena, pihak pengelola belum maksimal memperhatikan sarana, kenyamanan, dan kemanan bagi jalan bebas hambatan itu. Contoh saja, kondisi Jalan Tol Tangerang-Merak yang sampai sekarang masih rusak. Selain itu sering macet, kurangnya lampu penerang, sering terjadi kecelakaan dan tindak kriminalitas. Para artis yang sering menggunakan jalur tol berkomentar seragam, terlalu!
Penyanyi Puput Pei malah meminta pihak pengelola menggratiskan sebagian ruas jalan tol. Bukannya menaikkan tarif. “Masak, saya dari Cengkareng mau ke Bogor, harus bayar tiket tol sampai tiga kali,” ungkapnya, Sabtu (26/9).
Artis kelahiran Jakarta yang menjalani bisnis pertanian dan peternakan di wilayah Sukabumi, Jawa Barat itu, mengaku sangat dirugikan akibat kenaikan tarif tol. “Sekarang saja masih sering macet, eh kok tarifnya berkali-kali naik. Pemerintah kadang kelewatan, nggak peka dengan situasi dan keadaan perekonomian yang dialami masyarakat,” tegas Puput.
SIAP DEMO
Hal senada disampaikan penyanyi dan presenter Intan RJ. Penembang lagu Cintaku Padamu ini siap berada di barisan depan jika masyarakat atau pengguna jalan tol akan menggelar demo menolak kenaikan tarif jalan tol. “Aku heran, kenaikkan tarif tol itu sangat tidak beralasan. Alasannya apa sehingga tarif tol harus naik? Padahal, yang kita tahu Jasa Marga itu sudah untung besar,” kecamnya, Sabtu (26/9).
Pemain sinetron Putri Korek Api ini malah menyesalkan, pelayanan di jalan tol sangat tidak baik dan kondisi jalannya yang tidak terawat. “Jalan tol itu kan artinya jalan bebas hambatan. Kita memilih masuk jalan tol karena ingin terbebas dari kecametan. tetapi kenyataannya, lewat tol tetap terkena macet. Jangan ngurus untungnya saja yang lancar. Ini sangat memberatkan,” ujar presenter infotainment Kiss Indosiar ini.
HARUS PEKA
Komedian yang jadi anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN), Eko Patrio, mengaku heran dengan langkah pemerintah yang tiba-tiba menaikkan tarif tol. “Seharusnya kan pemerintah lebih peka, karena baru saja dalam situasi Lebaran,” ucapnya, Sabtu (26/9).
Seharusnya menaikkan taril tol jangan buru-buru. “Lihat situasi dong!. Sebab, biarpun cuma tarif tol yang naik, tapi nantinya akan berpengaruh terhadap harga kebutuhan masyarakat. Nah, jika harga-harga kebutuhan pokok masyarakat naik akibat dari situ, apakah pemerintah serta merta melarangnya. Ya, jelas nggak mungkin, dong!” Begitu tegas Eko Patrio seraya mengungkapkan perasaan prihatinnya.”
SEJAHTERAKAN RAKYAT
Bintang film Hantu Jembatan Ancol, Nadila Ernesta, pun kesal kalau tarif tol naik lagi. “Jangan sampai deh naik. Kita sudah bayar pajak masih dibebani tarif tol yang makin mahal. Kasihan rakyat. Itu akan memicu kenaikan biaya transportasi dan harga sembako,” kata cewek seksi kelahiran Jakarta, 4 Februari 1988 ini.
Pacar Eno Netral ini berharap pemerintah mengurusi hal yang lebih penting dari pada menaikkan tarif tol yang justru membikin masyarakat semakin kesulitan ekonomi. “Banyak orang miskin yang perlu disejahterakan. Kayaknya, nggak penting banget tarif tol dinaikkan,” ujar bintang sinetron Allah Maha Besar, Rahasia Ilahi dan Takdir Ilahi itu.
KEUNTUNGAN PENGELOLA
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Departemen Pekerjaan Umum (PU), Nurdin Manurung, menjelaskan saat ini pemerintah merencanakan membuat jalan tol sepanjang 3.087 km untuk melengkapi jaringan jalan nasional sepanjang 34.000 km. Saat ini jalan tol yang sudah terbangun sepanjang 690 km. Sebanyak 70 persen dari jalan tol sepanjang itu dioperasikan PT. Jasa Marga sebagai operator plat merah. Selebihnya dioperasikan swasta.
Berarti masih ada sisa 2.397 km yang direncanakan dibangun. “Ini masih dalam proses pra-konstruksi dan persiapan tender investasi.
Sebagai pengelola jalan tol terbesar, PT. Jasa Marga mengakui berhasil membukukan laba bersih Rp395,7 miliar pada semester I 2009, meningkat 8,5 persen dibanding periode yang sama 2008 Rp395,7 miliar.
“Naiknya laba bersih disumbang kenaikan pendapatan perusahaan pada periode yang sama sebesar 5 persen,” kata Direktur Utama PT.Jasa Marga, Frans S Sunito.
Secara rinci Frans memaparkan, pendapatan perusahaan pada semester I 2009 sebesar Rp1,702 triliun, sementara pada periode yang sama tahun lalu perusahaan meraih pendapatan Rp1,626 triliun.
Data yang diperoleh, pendapatan Jasa Marga pada 2008 mencapai Rp3,353 triliun atau naik 27 persen dari 2007 sebesar Tp2,645 triliun. Dari jumlah tersebut, tol menyumbangkan keuntungan dominan yaitu Rp3,319 triliun. Laba bersihnya sendiri mencapai Rp707,797 miliar atau melonjak 155 persen dari tahun 2007 yang hanya Rp277,981 miliar. Untuk laba usaha 2008 sebesar Rp1,371 triliun, naik 35 persen dari tahun 2007 sebesar Rp1,015 triliun.
TAK PERLU NAIK
Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengaku kaget terhadap besarnya keuntungan yang dikantongi sejumlah operator jalan tol. “Keuntungan sekitar Rp400 miliar dalam satu semester tersebut tidak sedikit,” katanya, Sabtu (26/9).
Dengan mengantongi keuntungan yang begitu besar, ia menegaskan pemerintah tidak perlu lagi menaikkan tarif jalan tol. Justru mendesak mereka meningkatkan layanan kepada pemakai jalan.
Tapi herannya, pemerintah malah merestui keinginan mereka menaikkan tarif. “Ini sama saja pemerasan. Kocek rakyat dikuras, kantong operator semakin dipertebal,” cetusnya.
Kecuali kalau operator tersebut merugi. Pemerintah boleh mempertimbangkan menaikkan tarif jalan tol yang dikelolanya.
Tapi itupun harus dilihat betul. Apa kerugian yang dialaminya itu karena operator bersangkutan masih kurang efisien atau karena kesalahan manajamen.
Seperti jalan tol Merak. Operator yang mengelola jalan tol tersebut menderita rugi. Tapi tak berarti kerugian yang dialaminya tersebut harus dibebankan kepada pemakai jalan dengan menaikkan tarifnya yang begitu tinggi.
Sebab jalan tol tersebut sebetulnya salah disain. “Ini karena kesalahan manajemen yang kurang cermat hingga salah hitung dan memprediksi saat membangun jalan tol Merak,” jelasnya.
Seharusnya, lanjut Tulus, operator bersangkutan yang menanggung kerugian tersebut seperti di Malaysia. “Di sini, pemerintah justru mengalihkan kerugian mereka ke masyarakat. Inikan tidak fair,” cetusnya.
Artikel Menarik Lain:
Filed Under: Ruang Berita Terkini




