Memancing di Air Keruh, Isu SARA Beredar di Tengah Penanganan Bencana Gempa
Ruang Hati | Oct 05, 2009 | Comments 30
Tell the world, Stop the donation to West Sumatra!!! Primordialism and racism is happening in there, Chinese people didn’t allowed to have food and was forced to buy the food aid. Family of mine was at there!!! Please sent out this massage to the world so they know the true!!! (katakan pada dunia, stop bantuan ke Sumatra Barat!!! Primordialisme dan rasisme terjadi di sana, warga Tionghoa tak diperbolehkan mendapatkan makanan dan dipaksa membeli bantuan makanan. Keluargaku di sana!!! Tolong sebarkan pesan ini ke seluruh dunia biar mereka tahu kenyataan ini!!!)

Tim Penyelamat terus berupaya keras untuk menyelamatkan korban dari puing-puing reruntuhan
Begitulah isi SMS yang beredar ditengah tengah upaya penyelamatan para korban gempa bumi di wilayah Sumatera Barat umumnya dan di kota Padang secara khusus dimana di kota tersebut ada satu kawasan Pecinan (China Town) yang banyak ditinggali kaum ethnis Tionghoa. Sms yang beredar tersebut seolah menceritakan ada diskriminasi penanganan korban gempa terutama yang dialamai ethnis Tionghoa.
Benar tidaknya kenyataan yang terjadi di kampung Tionghoa dengan isi SMS itu, Sutan Zaili Asril, direktur Padang Ekspres, anak perusahaan Jawa Pos yang dikutip ruanghati.com di Padang semalam memberi penuturan. Dari pengamatannya selama empat hari setelah terjadi gempa, proses evakuasi terhadap korban bencana di Pondok China memang dinilai lambat. Hal itulah yang memicu merebaknya isu pendistribusian bantuan yang tak adil di beberapa tempat, termasuk di kawasan Pecinan.
Padahal, buruknya manajemen dan ketidakberdayaan petugaslah yang sebenarnya terjadi. Di sisi lain, para korban sangat membutuhkan bantuan. Zaili menilai, distribusi bantuan yang diberikan pemkot juga tidak mengarah. “Entah kenapa, kesannya pemerintah cenderung memprioritaskan evakuasi di Hotel Ambacang, LBB Gama, Prayoga, Sigma, maupun LBB Lia. Padahal, evakuasi di Pondok China maupun Pasaraya seharusnya juga menjadi prioritas karena jumlah korbannya sangat banyak,” terang Zaili lebih lanjut.

Parah nya kerusakan akibat gempa di Padang dan keterbatasan tenaga penyelamat serta kurang bagusnya sistem manajemen penyelamatan membuat pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan sebagai amunisi isu SARA
Perlu juga diketahui, situasi lebih memiriskan dulu juga terjadi beberapa hari pascagempa tsunami Aceh pada 2004. Buruknya manajemen penyaluran bantuan dan minimnya pengawasan membuat situasi menjadi bar-bar dan tak terkontrol. Di berbagai tempat di Aceh, waktu itu, para penjarah bahkan sampai tega memotong jari mayat korban tsunami untuk mengambil cincin, anting di kuping, dan perhiasan lain.
“Sejak hari pertama gempa, kami belum mendapat bantuan sama sekali,” kata Ny Esther, salah seorang warga yang bermukim di Jalan Klenteng. Padahal, lokasi kampung tempat tinggal Esther berada di pusat Kota Padang. Apalagi, rumah wanita 43 tahun itu luluh lantak. Bangunannya tinggal separo, seperti dibelah menjadi dua.
Menanggapi isu sensitif itu, Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jatim Sulton Amin benar-benar sangat prihatin. Menurut dia, hal itu sangat memalukan. Terlebih, perhatian dunia saat ini juga mengarah pada kondisi para korban gempa. ”Jangan sampai relawan asing yang membantu di Padang hengkang sebelum waktunya gara-gara masalah ini,” ujarnya.
Dia menambahkan, sudah waktunya membuang ego pribadi yang muncul akibat perbedaan suku, agama, ras ,dan warna kulit. Perasaan senasib sebagai warga Indonesia dan sesama korban gempa yang membutuhkan bantuan seharusnya mampu melebur perbedaan itu.
Selain itu, dia mengharapkan seluruh masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi. Bahkan, dia siap membantu kalau langkah prosedural seperti melaporkan kepada pihak terkait tetap tidak membawa perubahan. ”Langkah terkahir adalah menyerahkan bantuan langsung ke etnis Tionghoa maupun kelompok lain yang didiskriminasikan,” tegasnya.
Mungkin bisa jadi semua ini sebenarnya terjadi karena kurang bagusnya koordinasi pemerintah daerah maupun pemerintah pusan dan ketidaksiapan pemerintah dalam upaya penanganan bencana juga antisipasinya sehingga korban yang jatuh disetiap bencana alam selalu besar. Semoga segra ada pembenahan dan perbaikan sistem penanganan disana hingga semua korban tanpa memandang etnis dan golongan dapat dibantu secara menyeluruh. Sungguh keji bila memang ada yang sengaja ingin memantik api ditengah kedukaan yang begitu lara akibat bencana ini. (Ref: JawaPos)
HOTLINE GEMPA SUMATERA BARAT:
0751 9824971 sd 9824980. FREE CALL
BCA KCU Thamrin No. Rek: 206.300668.8, atas nama Kantor Pusat PMI.
Dan Lewat Bank Mandiri KCU Jakarta Krakatau Steel No. Rek: 070-00-0011601-7,
atas nama Palang Merah Indonesia.
Bank Syariah Mandiri (BSM) a.n. Bulan Sabit Merah Indonesia, no. rek. 02.000.38569.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=5AYBGHqpIr8]
Artikel Menarik Lain:
Filed Under: Ruang Berita Terkini




