Video CCTV Hotel Ambacang Saat Gempa, Hingga Kemarin Masih Ada SMS dari Korban di Reruntuhan
Ruang Hati | Oct 06, 2009 | Comments 30
Besarnya jumlah korban yang tertimbun reruntuhan hotel Ambacang masih menjadi misteri. Evakuasi masih terus dilakukan. Memasuki hari ke empat kemarin, masih ada SMS yang dikirim dari dalam reruntuhan bangunan Ambacang. Namun, hingga kini tim evakuasi belum menemukan korban yang pegawai Departemen Perikanan dan Kelautan itu. Kondisi sisa bangunan yang miring, semakin menyulitkan tim evakuasi menembus misteri Ambacang.

Sampai hari ke-4 gempa Padang masih ada korban yang berhasil mengirimkan SMS
Hari ini, sudah memasuki hari yang ke lima. Namun, belum ada tanda-tanda pencarian dan evakuasi korban gempa 7,6 SR itu berakhir. Puluhan bahkan ratusan manusia diduga masih terkubur di bawah reruntuhan beton berkawat, yang runtuh dan tak berdaya ketika bumi minang berguncang. Bongkahan beton yang besar, bangunan yang besar dan tidak adanya blue print denah ruangan semakin menyulitkan ratusan tim evakuasi bekerja.
Beberapa diantara korban, masih ada yang bisa bertahan dibawah tindihan beton yang keras dan berat itu. Namun, pertahanan mereka tentu tak bisa bertahan lama, kecuali memang Tuhan berkehendak lain. Sedangkan yang sudah meninggal dan belum terevakuasi, kini sudah mulai membusuk menebar bau tak sedap. Kini tim evakuasi harus berpacu dengan waktu. Seperti yang terlihat di tengah puing-puing Hotel Ambacang.
Pekan lalu, hotel enam lantai itu masih berdiri megah. Kini, hotel itu sudah porak poranda, tinggal menyisakan dua lantai saja. Ditengah puing-puing dan onggokan besi dan beton, masih terpendam puluhan orang. Hingga kini jumlah korban di hotel ini memang masih simpang siur. Namun, yang sudah pasti, bau busuk menyengat mulai menusuk-nusuk hidung. Ini merupakan bau mayat manusia yang sampai hari ini belum berhasil dievakuasi.
Memang tidak mudah untuk mengevakuasi korban di hotel yang dibangun sejak zaman Belanda itu. Bongkahan beton yang masih besar-besar, dan masih adanya bangunan yang utuh di atasnya, semakin menyulitkan situasi. Dibutuhkan alat-alat khusus yang canggih untuk bisa mengevakuasi korban secara sempurna. Seperti mesin pemotong beton, penjapit raksasa, atau juga alat-alat berteknologi tinggi lainnya.

Proses evakuasi masih terus dilakukan dalam upaya penyelamatan korban yang diduga ada yang masih hidup
Namun, hingga kini alat-alat itu memang tidak ada. Sejumlah alat berat memang sudah ada. Seperti eskavator misalnya. Tetapi, alat ini tidak bisa serta merta bergerak, karena harus mempertimbangkan banyak faktor. Terutama, faktor keselematan korban.”Kita harus bekerja secara manual, teliti dan tidak boleh gegabah,” kata Ichwan, anggota tim relawan dari Polri kepada JPNN di Padang.
Tim relawan datang ke Padang sudah mencapai ratusan orang. Semuanya sudah bahu membahu, bekerja keras untuk mengevakuasi korban. Lemahnya koordinasi kini menjadi persoalan baru diantara mereka.Persoalan yang muncul di hotel Ambacang misalnya. Tim evakuasi lain mencoba menyibak puing-puing bangunan dengan menggunakan alat berat eskavator. Sementara, tim lainnya menyisir masuk ke dalam reruntuhan mencari mayat korban. Hal seperti inilah yang dikeluhkan banyak pihak. Karena, kerja yang bersamaan seperti ini justru membahayakan tim penyelemat. Getaran alat berat yang ditimbulkan, dikhawatirkan akan meruntuhkan bangunan, yang saat ini tidak jelas tiang penyangganya.
Seperti diketahui, Hotel Ambacang masih ada sisa lantai yang masih utuh yakni lantai lima dan enam. Dua lantai ini, kini teronggok di atas puing-puing bangunan lantai di bawahnya. Tidak ada pijakan yang kuat, kecuali hanya nyangkut diantara onggokan pecahan tembok. Praktis, dua lantai ini akan gampang roboh, jika onggokan tembok di bawahnya bergeser. Dan bergeser akibat getaran alat berat juga sangat dimungkinkan. Betapa pun sulitnya medan, ini merupakan pengalaman bagi tim evakuasi Indonesia. “Ini pengalaman luar biasa selama saya ikut tim evakuasi, karena medan penyelamatan sangan riskan. Jadi harus ekstra hati-hati untuk mengeluarkan korban,” kata Ichwan yang sudah delapan tahun bergabung dengan Polri ini.
Saking sulitnya medan, untuk mengeluarkan seorang mayat dibutuhkan waktu antara dua hingga tiga jam lamanya.Enam tim evakuasi tampak berdiskusi untuk mengupayakan bagaimana agar mayat dikeluarkan dengan kondisi utuh. Proses evakuasipun akhirnya berhasil, setelah sekitar dua jam tim evakuasi berupaya mengeluarkan mayat korban berjenis kelamin laki-laki itu. Pria yang mengaku hanya ganti baju dua hari sekali ini tak mampu menyimpan kekhawatirannya akan kesuksesan mengeluarkan semua korban. “Tapi tetap harus optimis dan bekerja semampu kami, karena yang terpenting upayakan yang terbaik,” ujarnya.
Dia bercerita, saat tiba di Kota Padang, Kamis (1/10) dini hari, dirinya dan sekitar 107 lainnya dibagi dalam beberapa tim, Ichwan kebagian tim evakuasi hotel Ambacang. Pukul 07.00 WIB kami langsung ke lokasi untuk proses evakuasi, kenangnya. Menurutnya, sudah empat mayat yang berhasil dievakuasinya, bau mayat sudah sangat menyengat, karena baru bisa dikeluarkan pada hari ketiga dan keempat. “Apalagi saat mengeluarkan mayat laki-laki berjas, dengan posisi membungkuk, yang kelihatan dulu adalah punggungnya,” kata Ichwan.
Saat evakuasi jenazah pria berjas itu, tangan dan baju Ichwan berlumuran darah korban, karena kondisi badan korban itu sudah sangat rapuh akibat terhimpit bangunan dengan berat belasan ton. “Tapi untung bisa utuh dievakuasinya,” tutur pria asal Medan ini.Hal senada diungkapkan Ismet, tim evakuasi dari PT Semen Padang ini mengaku sempat berada dalam ruang pengap tanpa oksigen, sehingga harus mendapatkan bantuan oksigen. Di benaknya terfikir, bagaimana nasib korban yang sudah puluhan jam terperangkap. “Saya saja sebentar di dalam reruntuhan sudah pengap, apalagi mereka,” kata Ismet.
[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=BXP9N42bBvk]
Lain lagi Asyraf Aziz yang ikut mengevakuasi korban gempa di reruntuhan bangunan LBA-LIA Padang. dia mengaku sempat tak bisa melakukan proses evakuasi karena cuaca tak mendukung. Bahkan pada detik-detik pertama evakuasi, dirinya dan beberapa personil TNI lainnya hanya menggunakan alat manual berupa linggis.”Karena kami tak mau mengambil resiko korban terjebak dan meninggal, jika memakai alat berat,” jelasnya. Dia juga mengaku sempat terpana saat berada di dalam reruntuhan bangunan tanpa sedikitpun cahaya. Yang dihirup hanya debu beton sehingga dia harus keluar masuk bangunan untuk mencari hawa segar.
Zainal,30,tim evakuasi mengatakan bahwa untuk melakukan pencarian di Hotel Ambacang perlu kehati-hatian,karena sewaktu-waktu gedung yang miring dihantam gempa tersebut, bisa rubuh dan menimpa tim evakuasi yang melakukan pencarian.”Dengan menggunukaan alat berat, dan dibantu anjing pelacak, saat ini dua orang korban telah berhasil kita keluarkan dari reruntuhan Hotel Ambacang.Untuk saat ini kita menduga masih banyak korban yang tertimbun di reruntuhan gedung ini.” ujar Zainal, kemarin.
Terdengar kabar bahwa ada SMS yang masuk dari salah seorang korban dari Dinas Kelautan dan Perikanan yang mengaku masih hidup namun terperangkap di salah satu ruangan .Setelah dilakukan pencarian oleh tim evakuasi korban yang mengirim SMS tersebut tidak ditemukan. Namun para tim evakuasi sampai saat ini masih terus melakukan pencarian dan berharap menemukan korban yang masih hidup. Bangunan yang ambruk, belum dievakuasi dan diduga banyak orang masih tertimbun seperti Sentral Pasar Raya, Hotel Rocky,Hotel Hayam Wuruk serta beberapa bangunan di kawasan Pondok hingga kemarin masih belum tersentuh.
Selain di hotel Ambacang Hotel, di sejumlah lokasi lain seperti Adira dan STBA Prayoga, juma masih ditemukan masing-masing dua orang korban gempa.Saat ini, korban yang ditemukan tersebut dibawa oleh tim evakuasi ke RSUP M.Djamil. Upaya pencarian korban di dua lokasi itu, juga tak kalah sulitnya di Hotel Ambacang.Hal ini dikarenakan tempat tersebut hancur dan rata dengan tanah.Dalam upaya pencarian kemarin siang juga terlihat kepanikan di wajah tim evakuasi, karena sampai saat ini beberapa orang korban masih terjebak didalam reruntuhan gedung dan belum dapat dievakuasi.
Sedangkan di kamar mayat RSUP M.Djamil juga masih terlihat keluarga korban menunggu saudara-saudara mereka yang sampai saat ini belum ditemukan.Mereka umumnya sengaja menunggu di kamar mayat RSUP tersebut karena telah mencari keluarga mereka.Rina,25,saudara korban yang masih menunggu kedatangan jenazah saudaranya yang saat itu berada di Ambacang Hotel mengaku bahwa ia sengaja menunggu disini dan berharap saudaranya tersebut segera ditemukan.”Awak alah bara hari ko manunggu di Ambacang Hotel,tapi sampai kini sanak wak tu alun basabok.” ujarnya sambil menitikan air mata.( JPNN)
HOTLINE GEMPA SUMATERA BARAT:0751 9824971 sd 9824980. FREE CALLDonasi Gempa Sumatera
BCA KCU Thamrin No. Rek: 206.300668.8, atas nama Kantor Pusat PMI.
Dan Lewat Bank Mandiri KCU Jakarta Krakatau Steel No. Rek: 070-00-0011601-7,
atas nama Palang Merah Indonesia.
Bank Syariah Mandiri (BSM) a.n. Bulan Sabit Merah Indonesia, no. rek. 02.000.38569.

Berita Terkait:
- Video dan Kisah Ramlan, Gergaji Kakinya Sendiri Untuk Lolos Dari Gempa Padang
- Kok Tega, Rakyat Kesusahan Terkena Gempa, Bupatinya Malah Melancong Ke Australia
- Memancing di Air Keruh, Isu SARA Beredar di Tengah Penanganan Bencana Gempa
- Media Masa Malaysia Ramai Galang Bantuan Untuk Gempa Padang
- Hotel Ambacang Dulu Dan Kini, Keindahan Yang Porak-Poranda Dalam Sekejap
- Subhanallah, 2 Hari Tertimbun Puing Bangunan Gempa, Dua Korban Berhasil Diselamatkan
- Waspada, Gempa Lebih Besar 30 Kali Lipat Dari Tgl 30-09-09 Sangat Potensial Terjadi Lagi di Padang
- Gempa Padang Berhubungan Dengan Tsunami di Samoa? (Satu Cincin Pasifik)
Artikel Menarik Lain:
Filed Under: Ruang Berita Terkini




