Borneo Adventure
Barcode Scanner

Wimar Witoelar dan Anies Baswedan Dukung Sri Mulyani Dalam Kasus Century, Ada Apa?

Beberapa tokoh nasional kemarin memberi dukungan untuk Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani. Setelah Selasa (1/12) dua guru besar ilmu hukum Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana dan Erman Rajagukguk, kemarin giliran Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan dan Wimar Witoelar datang memberi semangat kepada Menkeu. Sehari sebelumnya, sosiolog UI Imam B. Prasodjo juga tampak hadir di Departemen Keuangan.

Beberapa Tokoh Terkenal Nasional Memberikan Dukungan Pada Men Keu Sri Mulyani yang terdesak Kasus Bank Century

Beberapa Tokoh Terkenal Nasional Memberikan Dukungan Pada Men Keu Sri Mulyani yang terdesak Kasus Bank Century

Anies mengungkapkan, agenda pertemuannya dengan Menkeu adalah berdiskusi tentang berbagai kondisi terkini, terutama kasus Bank Century yang semakin panas.
”Pertama, soal legalitasnya, bukan politik. Kita harus mulai bicara berdasar fakta, bukan teori. Dulu kita mengkritik polisi karena menduga Bibit-Chandra (melakukan kesalahan) tanpa fakta. Sekarang, kita menggugat (penyelamatan) Bank Century tanpa fakta,” ujar mantan anggota Tim 8 kasus Bibit-Chandra tersebut setelah pertemuan tertutup selama hampir dua jam di gedung Departemen Keuangan sore kemarin (3/12).

Menurut Anies, dalam kasus Bank Century, semua pihak harus bisa menahan diri untuk tidak tergesa-gesa menimpakan kesalahan kepada pihak tertentu. ”Karena itu, BPK, PPATK, dan BI harus tunjukkan semua (fakta). Jangan jadikan (kasus ini sebagai) komoditas. Nanti Republik Indonesia tersandera. Masak hampir dua bulan bicara dua kasus ini saja (Bibit-Chandra dan Bank Century, Red). Kan banyak agenda penting lain yang harus diselesaikan,” tegasnya.

Wimar Witoelar menambahkan, persepsi masyarakat dalam kasus Bank Century masih bisa diluruskan, terutama terkait praduga terhadap pejabat-pejabat dalam pemerintahan. ”Saat ini seperti ada upaya untuk menggiring opini masyarakat sangat kuat oleh orang-orang tertentu yang mungkin punya kepentingan tertentu. Benar atau tidak, menggiringnya ke salah satu arah yang juga sedikit banyak membuat kerancuan masalah Bank Century,” ujarnya.

Saat ditanya apakah kedatangannya itu diundang Menkeu atau atas inisiatif sendiri, Wimar menyebut dua-duanya. ”Ini bukan kali pertama kami ketemu. Sering. Ya soal tanggal (pertemuan), saya yang usulkan, kalau tempat (diusulkan) Bu Sri Mulyani,” tuturnya.

Menurut dia, tudingan-tudingan miring yang dialamatkan kepada Sri Mulyani saat ini belum didasarkan pada fakta kuat. Hal itu, lanjut dia, bisa mengganggu kinerja pejabat yang bersangkutan.

”Sri Mulyani, selain Menkeu, juga merupakan kekuatan reformasi pemerintah yang sudah terbukti selama lima tahun. Jadi, kami (Wimar dan Anies) ingin membantu agar masyarakat melihat segalanya secara jernih,” terangnya.

Wimar menyebutkan, keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang diketuai Sri Mulyani dengan salah seorang anggota Wapres Boediono (dulu gubernur BI) pastilah diambil dengan tujuan menjaga stabilitas sistem keuangan karena saat itu Bank Century dinilai berpotensi sebagai sumber sistemik.

”Saya percaya, waktu itu (November 2008) orang-orang yang sekarang mengkritik pun tidak mempermasalahkan (keputusan penyelamatan Bank Century). Pak JK (Jusuf Kalla) yang menyebut perampokan oleh Robert Tantular sebagai penyebab Bank Century kolaps bisa saja memerintah polisi (untuk menangkap Robert Tantular). Tapi, untuk kasus stabilitas keuangan, tentu kompetensinya dari KSSK,” paparnya.

Terkait dengan bergulirnya hak angket di DPR, Wimar menyebut sebagai hak yang biasa. Meski demikian, dia berharap para anggota DPR bisa objektif dan menjunjung tinggi integritas.

”Saya gak bisa katakan ada yang integritasnya buruk, kecuali di luar mungkin anggota DPR. Banyaklah mungkin korban reformasi atau mungkin orang yang terhambat dalam kegiatannya yang menyimpang dari yang baik, sehingga dia mungkin lega kalau Menkeu-nya tidak terlalu ketat. Banyaklah yang punya motif,” ujarnya.

Sementara itu, saat ditemui di Kantor Departemen Keuangan kemarin, Sri Mulyani masih enggan berkomentar saat ditanya berbagai hal terkait dengan kasus Bank Century. ”Tanya PPATK saja,” ujarnya singkat dengan suara serak.

Sejak dua hari terakhir, suara Sri Mulyani memang serak, bahkan sangat serak. Untuk bersuara sedikit agak keras saja, dia harus berdehem berkali-kali. Menurut beberapa staf Departemen Keuangan, belakangan ini kondisi kesehatan salah seorang wanita paling berpengaruh di dunia itu memang tengah menurun. (Jawapos)

Filed Under: Ruang Berita PolitikRuang Berita Terkini

Toko Barcode

Comment using your Facebook

RSSComments (12)

Trackback URL

Comments are closed.